| AGENDA TAHUNAN PEMERINTAH Dalam beberapa hari lagi bulan suci Ramadhan akan segera tiba, Satuan Polisi Pamong Praja (Satpol PP) mulai disibukkan dengan melakukan razia di berbagai tempat. Sasaran razia ini di berbagai tempat prostitusi dan hiburan malam, seperti cafĂ© dan tempat-tempat mesum lainnya. Aparat keamanan juga tidak luput untuk melakukan razia di hotel-hotel yang biasa digunakan untuk berbuat mesum. Dalam upaya penertiban ini pemerintah harus melibatkan oknum daerah setempat agar razia berjalan lancar. Pemerintah juga tidak boleh memaparkannya kepada publik mengenai jadwal dan tempat-tempat yang akan dirazia. Ini merupakan cara jitu untuk mengurangi banyaknya penyakit masyarakat selama bulan suci Ramadhan. Permintaan pemerintah kepada pemilik usaha malam untuk menutup sementara usaha mereka dibulan suci Ramadhan menjadi perbincangan khalayak ramai. Tidak sedikit pemerintah daerah yang sudah mengeluarkan kebijakan menjelang bulan suci Ramadhan, seperti pembatasan jam operasional tempat-tempat hiburan malam. Hal ini merupakan hak dan wewenang daerah masing-masing karena pemerintah daerah setempatlah yang lebih tahu akan kondisi masyarakatnya. Semua ini sudah menjadi aturan pemerintah yang mau tidak mau harus disepakati oleh semua pihak yang bersangkutan, terutama pemilik usaha malam. Mereka tidak boleh beroperasi selama bulan suci Ramadhan. Apabila ada yang melanggar aturan pasti mereka akan dikenakan sanksi sesuai dengan Undang-undang yang berlaku. Penertiban ini sebagai bagian dari penegakan peraturan agar masyarakat bisa menjaga keharmonisan antar umat, sehingga situasi di bulan suci ini dapat kondusif, tanpa adanya kejahatan dan tindakan anarkis. Umat Islam juga bisa khusyuk dalam menjalankan ibadah selama bulan suci Ramadhan. Penulis sendiri kurang setuju mengapa penertiban usaha malam hanya dilakukan setiap menjelang bulan puasa? Ini bisa dikatakan “agenda tahunan”. Seharusnya pihak berwenang bisa lebih efektif lagi dalam mengonsep kegiatan tersebut dengan menambah jam operasional, bukan hanya pada bulan puasa saja tetapi pada bulan-bulan lainnya. Banyak kalangan pelajar yang mendiskusikan permasalahan ini. Seperti yang dikatakan oleh Ujang, teman Penulis, dia kurang setuju dengan adanya penertiban semacam ini (agenda tahunan; red) karena tidak bisa optimal dalam mengurangi kemaksiatan yang semakin merajalela. Ini sesuai dengan apa yang diungkapkan Penulis mengenai hal tersebut. Meskipun demikian, kita patut berbangga karena upaya penertiban masih ada. Melihat realita yang ada selama bulan suci Ramadhan yang telah kita jalani pada tahun-tahun sebelumnya, ternyata masih banyak kemaksiatan yang terjadi di kalangan masyarakat. Bukan hanya pada malam hari saja, namun juga di siang hari. Tidak sedikit remaja muslim yang yang masih gemar melakukan kemaksiatan. Mereka tidak mengenal waktu untuk menjalani kebiasaan buruk tersebut. Jangan kaget jika kita menyaksikan betapa banyaknya mereka yang melakukan tindakan bodoh ini di saat bulan puasa. Di pagi hari, baik di kota maupun di desa, pergaulan mereka sangat memprihatinkan. Tidak sedikit diantara mereka yang menggunakan waktu tersebut untuk jalan-jalan dengan niat “cuci mata”. Bahkan moment seperti ini dijadikan sebagai ajang pendekatan antar lawan jenis. Walhasil, mereka tidak mendapatkan apa-apa melainkan sia-sia puasanya. Sungguh sangat memprihatinkan. Hal ini disebabkan minimnya pengetahuan mereka tentang hukum syariat. Namun juga tidak jarang diantara mereka yang tahu akan hukum-hukum agama bahkan maksiatnya masih berjalan. Mengingat banyaknya kemaksiatan yang terjadi pada bulan Ramadhan, pemerintah harus menindak lanjuti secara keseluruhan. Aparat keamanan tidak hanya melakukan razia di tempat-tempat prostitusi ataupun hiburan malam, akan tetapi di semua tempat dan jalan umum, terutama di waktu pagi dan menjelang berbuka. Hal seperti ini dilakukan agar kesucian bulan Ramadhan tidak ternodai oleh perbuatan maksiat yang bisa memporakporandakan moral bangsa, lebih-lebih umat Muslim itu sendiri. Salah satu hal yang harus kita pikirkan adalah, sampai kapan kondisi itu akan terus terjaga dan tertib jika penertiban hanya dilakukan dalam waktu yang sesingkat itu? Ini artinya ketidaktertiban akan terus terjadi di luar bulan suci Ramadhan. Karena pemberantasan ketidaktertiban yang sudah menjadi kebiasaan tidak mungkin dapat dihentikan dengan melakukan operasi secara kilat. Selain itu operasi juga harus dilakukan secara terpadu dan terencana semaksimal mungkin. Upaya pencegahan harus melibatkan banyak pihak dan harus berjalan secara terus-menerus, tidak hanya dikarenakan bulan suci ini akan tiba. Pemerintah juga harus mencari solusi pasca penertiban agar tidak muncul tindakan anarkis ataupun kemaksiatan yang lain. |
Jumat, 22 Oktober 2010
jelang ramadhan
moment kemerdekaan
Tak asing lagi di mata masyarakat bahwa 17 Agustus merupakan hari besar kemerdekaan bangsa Indonesia. Pada tanggal tersebut, 65 tahun silam merupakan moment paling bersejarah bagi negeri berkembang ini karena merupakan awal dari kebangkitan rakyat Indonesia melawan ganasnya penjajahan Jepang sekaligus menjadi permulaan munculnya revolusi. Semangat juang mereka untuk merebut kembali bangsa yang telah sekian ratus tahun dijajah ini sangat tinggi. Berkat kegigihan dan kobaran api semangat mereka bangsa ini merdeka. Pengorbanan mereka terhadap bangsa ini harus kita tiru.
Terlepas dari semua itu, menjelang peringatan Hari Ulang Tahun (HUT) kemerdekaan Republik Indonesia yang ke-65 masyarakat beramai-ramai memperingatinya. Semangat kemerdekaan tidak akan pudar, oleh karena itu kemeriahan dalam memperingati HUT Kemerdekaan RI tidak berkurang walaupun di bulan ramadhan. Upacara kemerdekaan tetap berjalan seperti tahun-tahun sebelumnya. Masyarakat berlomba-lomba menghias halaman kampung dan sekitarnya secantik mungkin.
Akan tetapi, kalau kita melihat kondisi bangsa Indonesia seperti sekarang ini sangat memprihatinkan. Indonesia bisa dikatakan belum merdeka secara mutlak, hanya fisiknya yang bebas dari penjajahan. Negeri kita masih dijajah oleh bangsa barat secara politik dan budaya. Hampir semua masyarakat yang ada di Indonesia, terutama kaum muda, mereka tidak sedikit yang pola dan gaya hidupnya mengikuti budaya barat. Anehnya, mereka tidak menyadari akan hal ini. Fakta lain bisa kita saksikan berita di layar televisi yang setiap harinya tidak pernah kosong dari sajian tentang korupsi yang terjadi di belahan tanah air. Bukan hanya tentang penggelapan ataupun perampasan hak rakyat (korupsi), namun juga masih banyak berita lain yang mencemarkan nama baik bangsa seperti, terosis dan tindak kriminal lainnya. Sungguh ironis sekali jika negeri kita akan terus-menerus seperti ini
Sungguh sangat disayangkan jika masyarakat Indonesia terutama orang-orang yang mempunyai kedudukan penting di negeri ini tidak bisa memainkan roda kehidupan yang terjadi selama ini. Mengapa mereka tidak merujuk pada masa silam, betapa susah dan pedihnya merebut tanah air dari genggaman para penjajah.
Kalau kita melihat realita di pemerintahan yang terjadi selama ini, Indonesia masih sangat memprihatinkan.