Indonesia merupakan bangsa yang mempunyai banyak ragam budaya, salah satunya adalah budaya jawa. Patut kita syukuri bahwa budaya jawa termasuk budaya yang kokoh dalam menghadapi perubahan- perubahan yang ada. Namun kita juga harus menjaganya agar tetap eksis dalam menghadapi setiap tantangan yang ada.
Dengan datangnya Islam ke tanah jawa, maka disinilah kita menemukan perpaduan antara unsur- unsur budaya jawa dan Islam. Pada waktu itu, masyarakat jawa sudah memiliki kepercayaan animisme, dinamisme, hindu dan budha. Oleh karena itu, masuknya Islam ke tanah jawa tidak dapat merubah kepercayaan yang sudah yang pada masyarakat jawa. Namun memadukan antara unsur- unsur dari keduanya seperti pemujaan pada leluhur dengan sesaji, kemenyan, dan mantra- mantra yang diselingi dengan yasinan dan lain- lain. Dari perpaduan inilah lahir yang namanya Jawa Islam.
Perpaduan Nilai Budaya Jawa dan Islam
Definisi kebudayaan menurut Edward B. Taylor, dia mengungkapkan bahwa kebudayaan merupakan keseluruhan yang kompleks, yang didalamnya terkandung pengetahuan, kepercayaan, kesenian, moral, hukum, adat istiadat dan kemampuan- kemampuan lain yang didapat oleh seseorang sebagai anggota masyarakat.
Menurut pendapat Sahlins tentang adaptasi dalam persebaran budaya, Frans Magnis Suseno menilai bahwa hal itu juga terjadi pada masyarakat Jawa. Menurutnya, Jawa memiliki ciri khas (nilai) yang lentur dan terbuka walaupun suatu saat terpengaruh unsur kebudayaan lain, tetapi kebudayaan Jawa masih tetap dapat dipertahankan keasliannya. Meski secara hakikat nilai tersebut dipertahankan secara simbolik. Dengan demikian inti budaya Jawa tidak larut dalam Hinduisme dan Budhisme, tetapi juga unsur budaya impor tersebut dapat dijawakan.
Kedatangan Islam ke tanah jawa tidak dapat mengubah nilai budaya yang ada, namun melahirkan perpaduan antara dua nilai budaya tersebut. Sedikitnya ada dua faktor yang mendorong terjadinya perpaduan tersebut. Pertama, secara alamiah, sifat dari budaya itu pada hakekatnya menerima unsur budaya lain. Karena lapangan budaya berkaitan dengan kehdupan sehari- hari, maka tidak ada budaya yang dapat tumbuh terlepas dari unsur budaya lain. Terjadinya interaksi manusia dengan yang lainnya memungkinkan bertemunya unsur- unsur budaya yang ada dan saling mempengaruhi. Adapun faktor yang lain adalah sikap toleran para walisongo dalam menyampaikan ajaran Islam di tengah masyarakat Jawa yang telah memiliki keyakinan pra Islam. Dengan metode manut ilining banyu para wali membiarkan adat istiadat Jawa tetap hidup, tetapi diberi warna keislaman, seperti upacara sesajen diganti slametan dan lain- lain.
Nilai budaya Jawa yang animistis magis dan nilai budaya Islam yang bersifat monotheis akan menghasilkan perpaduan akulturasi. Perpaduan ini menampakkan kedua unsur budaya tersebut, sehingga masing- masing kebudayaan akan tetap eksis, seperti puasa yang disertai puji dina.
Di samping bentuk akulturasi, ada pula nilai budaya Jawa yang terpadu dengan nilai budaya Islam dalam bentuk asimilasi, di mana unsur dua budaya itu dapat menyatu dan tidak dapat dipisahkan, misalnya; gapura. Bentuk gapura itu tidak mengalami perubahan pada budaya Jawa atau Islam. Gapura yang terletak pada tempat ibadah umat Hindu (pura) tidak berbeda dengan apa yang ada di masjid maupun makam-makam.
Enkulturasi Nilai Budaya Jawa Islam
Dalam masyarakat tradisional, tiap individu tidak dapat dipisahkan dari lingkungan mereka. Mereka makhluk sosial yang berhubungan dengan alam lingkungan secara langsung irama alam, yaitu irama musim-musim merupakan irama hidup pula. Alam individu-individu dalam masyarakat terikat akrab dengan alam semesta dan kekuatan-kekuatannya. Orang berpartisipasi dalam keseluruhan yang berarti hidup yang secara mental mereka tidak bisa lepas dari padanya. Kondisi manusiawi ini diformulasikan secara sempurna oleh wujud kebudayaan yang berupa pikiran-pikiran. Konsepsi semacam ini dilambangkan dengan hukum adat. Formulasi adat dari kesadaran itu menjadi suatu kosmologi, tata tertib suci, dan makam kondisi itu. Manusia tidak boleh menyimpang daripadanya dalam kehidupan dan masyarakat. Orang harus taat, konserfatif, dan relegius. Kemajuan masyarakat berarti kemajuan kehidupan, yakni pengertian relegius dan kosmologis.
Ditinjau dari kepatuhan terhadap norma-norma beserta sanksinya, terdapat dua kategori norma, yaitu tata cara (folkways) dan adat istiadat (mores).
Tata cara adalah suatu rangkaian perbuatan yang juga telah membaku dalam pelaksanaan suatu jenis adat. Dengan kata lain tata cara itu pada dasarnya hanya merupakan rincian teknis pelaksanaan adat. Sedangkan definisi adat berdasar pada Kamus Besar Bahasa Indonesia (1989) ialah wujud gagasan kebudayaan yang terdiri atas nilai-nilai budaya, norma, hukum, dan aturan-aturan yang satu dengan lainnya berkaitan menjadi suatu sistem. Dapat disimpulkan bahwa adat bersifat lebih kompleks, yang menyangkut berbagai nilai. Slametan merupakan contoh dari adat istiadat yang melekat pada keyakinan masyarakat di sekeliling kita. Slametan ini berkaitan dengan siklus kehidupan seperti mitoni, khitanan, ruwatan, kematian dan lain- lain.
Nilai Budaya Jawa Islam di Tengah Modernitas
Modernisasi berarti progress. Progress sendiri merupakan suatu proses yang mana orang makin lama makin lebih menguasai alam kebendaan. Progress itu adalah dinamika, yaitu suatu proses yang berputar terus menerus. Modern bukan berarti mengubah keadaan tradisional, melainkan berarti pembukaan dimensi-dimensi hidup yang baru. Modern adalah suatu sikap, pola berpikir, cara menghadapi dunia dan kehidupan manusiawi. Sehingga manusia modern berciri memiliki keterbukaan terhadap ide baru, berorientasi ke masa sekarang dan masa depan, punya kesungguhan untuk merencanakan, percaya bahwa manusia dapat menguasai alam, bukan sebaliknya.
Dalam proses perubahan kebudayaan ada unsur- unsur kebudayaan yang mudah berubah dan yang sukar berubah. Berkaitan dengan hal ini, Linton membagi kebudayaan menjadi inti kebudayaan (covert culture) dan perwujudan kebudayaan (overt culture). Bagian ini terdiri dari sistem nilai budaya, keyakinan keagamaan yang dianggap keramat, beberapa adat yang telah mapan dan telah tersebar luas di masyarakat. Adapun bagian inti dari kebudayaan tersebut sulit berubah, seperti keyakinan agama, adat istiadat, maupun sistemnilai budaya. Sementara itu, wujud kebudayaan yang merupakan bagian luar (fisik) dari kebudayaan mudah untuk berubah, seperti alat- alat atau benda- benda hasil seni budaya. Dengan menggunakan kerangka teori tersebut diatas, maka nilai budaya Jawa Islam yang sulit berubah dimasa modern ini adalah yang terkait dengan keyakinan keagamaan dan adat istiadat.
Kehidupan spiritual di era modern ini sangat umum memang tampak mengalami peningkatan, termasuk di kalangan masyarakat jawa. Hal ini desebabkan karena sebagian besar orang mulai merasakan pengaruh negative dari budaya modern yang hanya menonjolkan logika dan materi, tetapi tidak mengandung dari nilai spiritual. Mereka cenderung mengutamakan hal yang bersifat material dan rasional, tetapi melupakan nilai sosial dan batiniah. Seiring dengan hal tersebut, banyak oang yang kembali pada hal yang bersifat spiritual dengan tujuan ketenangan jiwa. Maka tidak sedikit dari mereka yang kembali ke ajaran agama yang bersifat spiritual, termasuk spiritualitas jawa islam yang banyak diminati oleh orang modern.
Islam datang di jawa yang pada waktu itu masyarakatnya sudah mempunyai kepercayaan dari nilai budaya sebelumnya, seperti animism, dinamisme, hindu dan budha. Pada waktu budaya Jawa yang animistis magis bertemu dengan unsur budaya Islam yang monotheistis maka terjadilah pergumulan yang menghasilkan Jawa Islam yang singkretis dan Islam yang puritan. Kemudian Islam digambarkan sebagai ”wadah” sedangkan ”isinya” adalah Jawa. Dalam nilai budaya Jawa yang terpaku dengan nilai budaya Islam yaitu di anataranya dalam bentuk akulturasi dan asimilasi.
Dalam enkulturasi nilai budaya Jawa Islam kalau, ditinjau dari sisi kepatuhan terhadap norma-norma beserta sanksinya, terdapat dua kategori norma yaitu tata cara (flok ways) dan adat istiadat (mores). Dalam konteks terjadinya perubahan ke arah modernisasi yang berisi rasionalistis, materialistis, dan legaliter, maka nilai budaya Jawa dihadapkan pada tantangan budaya yang global dan plural.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar